Jakarta. Kalau boleh agak ekstrem menggambarkan suasana
industri reksadana, mungkin tepat jika kita mengi-barkan bendera kuning
sebagai tanda berduka. Bagaimana tidak, tiga dari empat indeks
reksadana bentukan PT Infovesta Utama, sebuah lembaga riset pasar modal,
mencatatkan rapor jeblok sepanjang 2013.
Tiga indeks itu adalah
Infovesta Equity Fund Index (indeks reksadana saham), Infovesta Balance
Fund Index (indeks reksadana campuran), dan Infovesta Fixed Income Fund
Index (indeks reksadana pendapatan tetap). Performa tiga indeks
reksadana ini juga terburuk dalam kurun tiga tahun terakhir. Cuma
Infovesta Money Market Fund Index (indeks reksadana pasar uang) yang
berapor biru.
Dari 96 produk reksadana saham yang didata
Infovesta, 70 produk mencetak return negatif. Sementara jumlah produk
reksadana campuran dan reksadana pendapatan tetap yang membukukan return
negatif sama, yakni 56 produk. Total reksadana campuran dan reksadana
pendapatan tetap yang didata masing-masing 97 produk dan 92 produk.
Itu
berarti lebih 50% produk di setiap jenis reksadana gagal mencetak
untung sepanjang 2013 lalu. Namun, meski begitu, ada saja MI yang
berhasil menorehkan tingkat keuntungan hingga double digit atas salah
satu atau beberapa reksadana racikan mereka.
Menurut Vilia Wati,
analis Infovesta Utama, performa indeks reksadana pendapatan tetap
paling jeblok karena menanggung dampak negatif harga obligasi yang
tinggi sejak awal tahun. Harga tinggi menyebabkan gerak obligasi
terbatas. Masuk akal, sih, sebab para manajer investasi (MI) memang
biasa memanfaatkan trading obligasi untuk mengail keuntungan dari jual
beli (capital gain), selain mencari keuntungan lewat pembayaran bunga
oleh pemerintah maupun perusahaan penerbit surat utang.
Kinerja
indeks reksadana campuran sebenarnya masih lumayan jika dibanding dengan
indeks reksadana saham dan indeks reksadana pendapatan tetap, tertopang
karakter sendiri. Saat bursa saham naik hingga Mei 2013, reksadana
campuran ikut naik. Tapi saat bursa jatuh, porsi obligasi dalam produk
ini mencegahnya jatuh terlalu dalam, beber Vilia.
Kinerja
melempem reksadana, bisa ditebak, pelan namun pasti memicu pencairan
dana lewat penjualan unit reksadana oleh investor (redemption). Data
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan indikasi tersebut. Per 20
Desember 2013 nilai aktiva bersih (NAB) reksadana secara nasional
tinggal Rp 190,49 triliun. Padahal, sampai akhir Juli 2013 masih Rp
196,35 triliun. Dengan kata lain, selama kurang lebih selama lima bulan,
nilai NAB susut 2,98%. Selain akibat penarikan dana, tentu penyusutan
ini juga disebabkan penurunan harga saham yang menjadi basis reksadana
saham dan campuran.
Sinyal makroekonomi
Meski
sepanjang tahun 2013 pasar reksadana remuk-redam, tahun ini para pelaku
pasar melihat banyak harapan dan sinyal penanda perbaikan makroekonomi.
Analis obligasi Millenium Danatama Indonesia Desmon Silitonga
mengungkapkan empat kondisi yang berpotensi menguntungkan pasar
obligasi. Pada gilirannya, kondisi tersebut akan berpengaruh pula pada
reksadana.
Pertama, isu kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM)
sudah tak ada lagi. Kedua, defisit transaksi berjalan akan mengecil.
Ketiga, ada peluang Bank Indonesia (BI) mengempiskan suku bunga acuan.
Keempat, rupiah bisa dikendalikan di level Rp 11.000-an per dollar
Amerika Serikat (AS).
Melongok data inflasi dan neraca
perdagangan Badan Pusat Statistik (BPS), sinyal positif memang tampak.
Inflasi Desember 2013 month to month (mtm) hanya 0,55%, tidak berbeda
secara signifikan dibandingkan dengan inflasi Desember 2012 dan Desember
2011, yakni masing-masing 0,54% dan 0,57%.
Meski begitu, kalau
kita lihat dengan sudut pandang lebih luas, inflasi tahunan 2013 tetap
paling tinggi. Sekadar pembanding, inflasi 2013 mencapai 8,38%,
sedangkan inflasi 2012 dan 2011 masing-masing 4,30% dan 3,79%.
Seiring
melandainya inflasi, neraca perdagangan per November 2013 juga
mengalami surplus US$ 0,78 miliar. Catatan ini melanjutkan neraca
perdagangan surplus di Oktober. Cukup melegakan, sebab sebelumnya minus
dari April - Juli, lantas dilanjutkan minus juga di September.
Tumpuan
harapan pada sentimen makroekonomi ini menyebabkan pelaku pasar tak
melihat sentimen ekonomi global sebagai tantangan berarti. Bahkan
terhadap tapering off oleh bank sentral AS, Direktur Danareksa
Investment Management Hari Prihatmo berani bilang bahwa pasar sudah
memasukkan kemungkinan tersebut dalam risiko investasi. Tak kalah
optimistis, Vice President Syailendra Capital Mulia Santoso berpendapat,
jika inflasi bisa terjaga di bawah 6% dan rupiah cukup stabil di Rp
11.500 saja, reksadana saham berpotensi mengalami pembalikan ke arah
tren positif terbesar ketimbang reksadana campuran dan reksadana
pendapatan tetap. Namun sinyal positif bagi reksadana saham itu
kemungkinan baru menyala selepas kuartal I nanti.
Sedikit
berbeda, Herdianto Budiarto, Direktur Avrist Asset Management, mengaku
belum yakin benar iklim investasi reksadana bakal kinclong meski
data-data ekonomi awal tahun positif. Butuh kepastian setidaknya satu
semester untuk memastikan kebenaran perbaikan ekonomi.
Strategi mengail return
Terlepas
ada yang yakin dan ragu-ragu, para pengelola dana kompak optimistis
return reksadana bisa positif tahun ini. Mulia memprediksi tahun ini
return industri reksadana saham antara 10% hingga 15%. Adapun reksadana
campuran diperkirakan mencetak untung 7% - 10% dan reksadana pendapatan
tetap menghasilkan 5% - 10%. Proyeksi tersebut sekaligus menjadi target
return untuk produk Syailendra.
Khusus reksadana pendapatan
tetap, kebetulan koleksi Syailendra berada di nomor wahid daftar
pencetak return tahun 2013. Alhasil perusahaan ini bakal menerapkan
strategi serupa di tahun ini, yakni menempatkan dana dengan porsi hampir
sama di obligasi pemerintah dan korporasi. Tenor obligasi yang dipilih
tak lebih dari tiga tahun.
Terhadap obligasi korporasi,
Syailendra memilih yang memiliki rating minimal A. Lantaran kondisi
sektoral yang dianggap tak baik, perusahaan manajemen aset ini tak
memilih penerbit obligasi dari sektor pertambangan dan perkapalan.
Samuel
Aset Manajemen lebih berani menetapkan prediksi return. Agus Basuki
Yanuar, Presiden Direktur Samuel AM, menuturkan target return reksadana
pendapatan tetap 10% - 12%. Adapun return reksadana campuran dan
reksadana saham masing-masing diprediksi 13% - 15% dan 18% - 20%. Sayang
Agus enggan buka-bukaan tentang jurus mengail laba yang dia lakukan
sehari-hari.
Avrist, sebuah perusahaan manajer investasi yang
lain, memilih metode bottom up untuk meracik reksadana saham dan
reksadana campuran. Ini adalah metode memilih saham bukan berdasar
sektor melainkan analisa kapitalisasi pasar dan likuiditas.
Ada
tiga kategori saham dalam metode ini. Pertama, saham-saham yang memiliki
potensi pertumbuhan di atas indeks (beat the index). Kedua, saham blue
chips yang bergerak sejalan indeks (tracking index). Ketiga, saham-saham
defensif.
Tidak ada persentase khusus bagi ketiga kategori ini.
Hanya, jika kondisi pasar sedang bagus, komposisi saham beat the index
ditambah. Jika yang terjadi sebaliknya, Avrist akan fokus ke saham-saham
kategori tracking index dan defensif. Sementara penempatan portofolio
di obligasi dan pasar uang dilakukan Avrist untuk mengantisipasi jika
harga saham jatuh. Obligasi pemerintah adalah pilihan utama MI ini.
Perusahaan
manajemen aset lain, OSO Manajemen Investasi, akan menghindari saham
yang memiliki paparan tinggi terhadap perubahan suku bunga, seperti
sektor keuangan dan properti. Saham-saham dari emiten yang banyak
melakukan kegiatan impor juga akan dihindari.
Mengenai obligasi,
senada dengan Avrist, surat utang pemerintah adalah pilihan utama OSO. Kami pilih moderat. Kalau pun memilih obligasi korporasi, kami pilih
terbitan BUMN, ungkap
Ruben Sukatendel, Head of Investment OSO.
Lain
lagi dengan strategi Panin Asset Management. Terhadap reksadana
berbasis saham, perusahaan ini menjatuhkan pilihan pada saham yang masih
murah tapi berfundamental baik. Sektor favorit mereka adalah perbankan,
konsumer, dan properti. Meski terpengaruh suku bunga, masih ada
emiten bank yang berkinerja baik. Perusahaan properti yang menyasar
kelas atas juga layak dilirik, ujar Rudiyanto, Head of Operation and
Business Development Panin AM.
Terhadap reksadana obligasi, Panin
melihat tahun ini ada potensi penurunan suku bunga. Artinya, muncul
potensi pertumbuhan kinerja obligasi bertenor menengah hingga panjang.
Panin mengincar obligasi tersebut. Tahun ini mereka mematok target
return reksadana saham 19% - 20%, reksadana pendapatan tetap 12% - 14%
dan reksadana campuran 15% - 17%.
Siapa bernyali mendompleng keberuntungan para MI?
http://investasi.kontan.co.id/news/prosperk-positif-industri-reksadana-tahun-ini